Two - Photographs by Shamow'el Rama Surya

Kata Pengantar (Introduction) :

"Always Look on the Bright Side of Life"
-Monty Phyton-

 

     Saya anak pertama dan lahir pada tahun 1970, kemudian juga besar di kota kecil Bukittinggi yang dikelilingi oleh 3 gunung yaitu Gunung Merapi, Gunung Singgalang dan Gunung Tandikat, dikenal dengan nama Tri Arga. Setamat SMA saya merantau ke Pulau Jawa, pertama sekolah fotografi di Bandung pada tahun 1990 dan kemudian bekerja sebagai jurnalis foto di majalah di kota Jakarta sejak tahun 1993 hingga tahun 1998.

     Dalam pernikahan pertama saya, Tuhan memberi 2 putra dan 1 putri, dan berharap akan terjadi pernikahan kedua dan hal ini membuat saya belajar banyak dari kegagalan pernikahan pertama saya. Saya pernah setia pada mantan istri saya dan juga kemudian setelah 5 tahun perkawinan tidak setia padanya karena beberapa alasan.

     Pada kolom agama di KTP (Kartu Tanda Penduduk) saya, ada 2 agama yang pernah saya anut, yang pertama Islam dan kemudian sekarang ini tertulis Kristen. Saya telah pindah iman, suatu pergumulan pribadi yang dahsyat terjadi dalam diri saya, sehingga secara administrasi pun perlu adanya perubahan. Dalam pengurusan dokumen kependudukan ini saya mengalami kemudahan karena etnis saya dikategorikan sebagai "pribumi". Kemudian saya menyadari ada warga negara Republik Indonesia yang dikategorikan sebagai "non-pribumi" yang dialamatkan kepada etnis Tionghoa. Banyak kesusahan-kesusahan yang dialami oleh etnis Tionghoa oleh karena kategori non-pribumi ini yang awalnya datang dari kolonial Belanda yang ingin bangsa Indonesia yang majemuk ini menjadi lemah karena bibit perpecahan yang ditanam dari ratusan tahun lalu itu.

     Ketika saya menekuni fotografi, saya menemukan ada 2 jenis medium film yang digunakan yaitu Hitam Putih dan Warna, sehingga saya perlu waktu untuk mempelajari masing-masing karakteristik dari 2 jenis medium tersebut. Hal ini juga membuat saya untuk selalu membawa 2 body kamera yang berisi masing-masing film warna dan film hitam putih.

     Setiap kali bercermin saya melihat diri saya yang lain dan menyadari bahwa  pikiran saya tidak selalu selaras dengan perasaan (suasana hati) saya. Jika saya mau berhasil (dalam apapun yang saya kerjakan), saya telah belajar bahwa pikiran dan perasaan itu perlu untuk selaras : "Sehati dan sepikiran". Dalam tataran psikologi kita pernah mendengar bahwa elemen diri kita terdiri dari fisik (tubuh) dan 2 hal non-fisik yaitu roh dan jiwa. Oleh karena ada pengetahuan tentang jati diri manusia dan kosmologi alam semesta, saya belajar untuk memahami dunia material dan immaterial. Sehingga saya mengetahui bahwa ada kuasa-kuasa (ilah-ilah) yang bekerja dan hadir dalam segala aspek kehidupan manusia. Pertama adalah kuasa Sang Pencipta (God Almighty) yang berdiam di surga dan kuasa ilah-ilah dunia, Sang Terang dan Sang Kegelapan. Ini dapat berakibat pada kondisi manusia yang menjadi hidup atau mati, dalam hidupnya manusia dapat mengalami sehat dan sakit. Selalu berada pada dua kutub.

A little girl (she Indonesian born as Chinese) cried in the arm of her family maid (she is a Javanese) one day after the rioters attacked Indonesian Chinese's and burned their houses in May 1998 tragedy after the dictator Suharto stepped down from his 32 years reigned in Indonesia.

Tigers watched the Tai-Chi practicioners in Bukittinggi town square, West Sumatera, Indonesia 1997

Two major religion posters on the street in Pasar Baru market, Jakarta, Indonesia 1997

A couple read books in the airport, Hainan Island, China 2009.
Photo by Shamow'el Rama Surya

Mirroring the monkey in a cemetery, Jakarta, Indonesia 1997

Two diagonal lines of the soccer supporters in National Stadium of Jakarta City, Indonesia 1996

Men sell textile in Tanah Abang Market, Jakarta, Indonesia 1997

Little boys traded Moslem dress in Tanah Abang Market, Jakarta, Indonesia 1997

Kurt Cobain's fans in a Moslem prayer gathering in National Monument square, Jakarta, Indonesia 1997

Chess gamers and two colors of goats in Tanah Abang Market in Jakarta, Indonesia 1997

Babies in a nursery room of a hospital in Jakarta, Indonesia 1997

Men wears plastic raincoats in a market in Wonosari town, Gunungkidul district, Central Java Province, Indonesia 1999

Hands of a Miao lady in Guizhou Province, China 2010

Two men saved their things in mud disaster in Sidoarjo. The Sidoarjo mud flow or Lapindo mud (informally abbreviated as Lusi, a contraction of Lumpur Sidoarjo wherein lumpur is the Indonesian word for mud) is the result of an erupting mud volcano in the subdistrict of Porong, Sidoarjo in East Java, Indonesia that has been in eruption since May 2006. It is the biggest mud volcano in the world; responsibility for it was credited to the blowout of a natural gas well drilled by PT Lapindo Brantas, although some scientists[2] and company officials contend it was caused by a distant earthquake.

A cafe in Eastside of Berlin, Germany 2002

Tea cups in Hutong area, Beijing, China 2008

The zebra cross and squares, Shanghai, China 2009

The girl works, boys plays in Serangan Island, Bali, Indonesia 2001

Two mix-married children, Beijing, China 2007.
Photo by Shamow'el Rama Surya

Two Sikerei (the shamans) in Siberut Island Mentawai, West Sumatera, Indonesia 1995.
Photo by Shamow'el Rama Surya

Couples, Biel/Bienne, Switzerland 1998.
Photo by Shamow'el Rama Surya